Minggu, 03 Oktober 2010

Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Hasil Belajar Siswa

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan. Hal ini terkandung dalam tujuan pendidikan nasional dalam UU No.20 Thn 2003 Pasal 3:
Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembangan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1).
Pembinaan dan pengembangan manusia sebagaimana diamanatkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diperlukan kerja sama seluruh elemen bangsa baik dari keluarga di rumah, kaum guru di sekolah, dan para tokoh Agama dan masyarakat sekitar. Tanpa kerja sama yang sinergik, tentu saja tujuan pendidikan nasional tersebut hanya isapan jempol belaka.
Di dalam Kurikulum 2004 diamanatkan bahwa dalam peningkatan mutu pendidikan seyogyanya secara terus menerus dilakukan secara menyeluruh melalui aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup (life skil) melalui seperangkat kompetensi agar peserta didik dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa mendatang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak memproleh informasi dengan melimpah, cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan pengetahuan dan teknologi yang pesat, perubahan demi perubahan-pun akan terus terjadi dengan cepat dan pesat. Ini disebabkan oleh kebutuhan untuk memperoleh, mengelola dan memanfaatkan berbagai informasi. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang tajam, antara lain berpikir sistematis, dan berpikir kritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika.
Departemen Pendidikan Nasional (2003: 02) mengisyaratkan bahwa mata pelajaran matematika itu berfungsi untuk mengembangkan kemampuan nalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen serta sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui symbol, tabel, grafik, diagram dalam menjelaskan gagasan.
Matematika umumnya identik dengan perhitungan angka-angka dan rumus-rumus, sehingga muncullah anggapan bahwa skill komunikasi tidak dapat dibangun pada pembelajaran matematika. Anggapan ini tentu saja tidak tepat, karena menurut Greenes dan Schulman (Ansari, 2004: A5-3) bahwa:
  Kemampuan komunikasi matematika memiliki peran: (1) kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika; (2) modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; (3) wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain”.

 Sejalan dengan itu, Lindquist (Istiqomah,2007)) menyatakan bahwa peserta didik memerlukan komunikasi dalam matematika jika hendak meraih secara penuh tujuan sosial, seperti melek matematika, belajar seumur hidup, dan matematika untuk semua orang.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan keterlibatan aktif antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Selain itu, pada kurikulum sebelumnya atau KBK menekankan bahwa belajar matematika tidak sekedar learning to know, melainkan harus ditingkatkan meliputi learning to do, lerning to be, hingga learning to live together. Suyitno (2004) mengungkapkan bahwa sasaran dari pembelajaran matematika adalah siswa diharapkan mampu berpikir logis, kritis dan sistematis. Untuk mengembangkan potensi to live together salah satunya melalui model pembelajaran kooperatif. Aktivitas pembelajaran kooperatif menekankan pada kesadaran siswa perlu belajar untuk mengaplikasikan pengetahuan, konsep, keterampilan kepada siswa yang membutuhkan atau anggota lain dalam kelompoknya, sehingga belajar kooperatif dapat saling menguntungkan antara siswa yang berprestasi rendah dan siswa yang berprestasi tinggi. Salah satu model pembelajaran kooperatif yaitu tipe Numbered Heads Together (NHT). Menurut Muhammad Nur (Noor Azizah, 2005: 4) menyatakan bahwa:
  Model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.

Setelah observasi dan wawancara dengan guru kelas V SD Negeri 2 Cibogogirang pada tanggal 12 Nopember 2009, maka diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar khususnya pada pelajaran tertentu seperti matematika. Sebelumnya, sebagian siswa menganggap mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang sulit, hal ini nampak dari rendahnya prestasi belajarnya. Selain itu rendahnya prestasi belajar matematika juga dipengaruhi oleh kurangnya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran di kelas. Partisipasi ini berhubungan erat dengan kemampuan komunikasi siswa. Rendahnya kemampuan komunikasi ini mengakibatkan siswa sulit untuk mencerna soal – soal yang diberikan sehingga mereka tidak bisa memecahkan masalah tersebut. Seorang siswa yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik akan dapat dengan mudah mengambil suatu langkah untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Faktor yang berpengaruh dari temuan tersebut adalah cara mengajar guru yang tidak tepat. Guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif objektif, dan logis. Pembelajaran yang diterapkan menggunakan metode ekspositori, di mana pembelajaran berpusat pada guru, siswa pasif, dan kurang terlibat dalam pembelajaran.. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kejenuhan yang berakibat kurangnya minat belajar. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kelemahan belajar matematika di kelas adalah (1) siswa kurang memperhatikan materi yang diberikan guru, (2) siswa kurang dalam mengerjakan latihan-latihan soal, (3) siswa malu bertanya tentang materi yang belum dimengerti, dan (4) siswa mengalami kesulitan atau kebingungan di saat menyelesaikan soal/masalah yang berkaitan dengan jarak, waktu dan kecepatan.
Proses kerja matematika pada pembelajaran matematika seperti yang telah disebutkan diatas itu dapat dilakukan siswa dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan yang telah dipersiapkan guru yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Belajar dalam NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan suatu permasalahan terlebih dahulu kemudian mencari penyelesaian dengan mengkomunikasikan pendapatnya dalam kelompok, khususnya tentang materi pokok jarak, waktu dan kecepatan. Keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran ini dapat diukur dari dua sisi yaitu tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang diberikan serta kemampuan siswa dalam mengkomunikasikan gagasannya untuk menyelesaikan persoalan – persoalan yang ada. Masalah – masalah tersebut membutuhkan sebuah solusi pembelajaran yang dapat menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi siswa. Model pembelajaran yang digunakan selayaknya dapat membantu siswa untuk dapat memecahkan masalahnya secara mandiri. Disini membutuhkan peran guru untuk dapat membawa anak didiknya mempunyai kemampuan tersebut. Guru haruslah dapat menciptakan suasana belajar yang mampu mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki siswanya dalam memecahkan masalahnya sendiri.
Kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki siswa ini nantinya diharapkan dapat memperbaiki prestasi belajar siswa sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan seperti yang tersebut diatas.
Berangkat dari pemikiran dan hasil observasi pendahuluan di SDN 2 Cibogogirang di atas, penelitian ini terfokus pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan judul, "Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Hasil Belajar Siswa” (Penilitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas V SDN 2 Cibogogirang Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun Ajaran 2009/2010).\

etc....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar