Minggu, 03 Oktober 2010

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PENINGKATAN HASIL PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR

                                                                             BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sifatnya mutlak baik dalam kehidupan seseorang keluarga maupun bangsa. Mengingat pentingnya bagi kehidupan, maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya dalam bentuk upaya pendidikan, salah satu upaya pendidikan yang paling dikenal adalah belajar. Belajar merupakan suatu upaya atau kegiatan yang bersifat disengaja dan disadari dalam memperoleh suatu isyu. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disebabkan individu mengadakan respon terhadap lingkungan. Pengertian ini mengandung arti seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku baik asfek pengetahuan, keterampilan, maupun asfek lainnya.
Melalui pendidikan dan proses hasil belajar diharapkan memiliki kecenderungan untuk mampu dan mau memanfaatkan ilmu secara tepat guna. Hal ini sesuai dengan peraturan menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006, menyatakan bahwa:
Pendidikan nasional yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang  dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 berfungsi membangun potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Lebih ditegaskan lagi pada pasal 3 Undang-Undang RI. Nomor 20 tahun 2003 di ungkapkan bahwa:
Tujuan  pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pembinaan dan pengembangan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia  sehat, berilmu, cakap, kretif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diperlukan kerjasama seluruh elemen bangsa baik keluarga di rumah, kaum guru di sekolah, dan para tokoh Agama dan masyarakat di sekitar. Tanpa kerjasama yang sinergik, tentu saja tujuan pendidikan nasional tersebut tidak akan terwujud. Di dalam kurikulum  tahun 2004 diamanatkan bahwa, “dalam peningkatan mutu pendidikan seyogianya secara terus-menerus dilakukan secara menyeluruh meliputi asfek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai.” Pengembangan asfek-asfek tersebut dilakukan  untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup (life skill) melalui seperangkat kopetensi agar peserta didik dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri dan berhasil dimasa mendatang.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan semua pihak memperoleh informasi dengan melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan  pengetahuan dan tekhnologi yang pesat perubahan demi perubahan akan terus terjadi dengan sangat pesat dan cepat. Ini disebabkan kebutuhan untuk memperoleh, mengelola dan memanfaatkan berbagai informasi Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang tajam antara lain berifkir sistematis dan berfikir keritis yang dapat dikembangkan melalui pembelajran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
 Ilmu pengetahuan alam (IPA) sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang pesat. Dengan demikian, maka upaya pelaksanaan dan pengembangannya perlu dipertimbangkan salah satu upaya dengan melaksanakan (KBM) yang telah disesuaikan dengan kurikulum dan menumbuh kembangkan kemampuan serta membentuk pribadi siswa kepada pengembangan ilmu pengetehuan dan tekhnologi. Berdasarkan kurikulum 2006, mata pelajaran  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan diantaranya:
(1). Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (2). Mengembagkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), lingkungan, teknologi, dan masyarakat. (3). Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. (4). Meningkatkan ke sadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam. (5). Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Merupakan pendekatan yang orientasinya menju kepada penalaran siswa yang bersifat realistik sesuai dengan tuntutan kurikulum kompetensi yang ditunjukan kepada pengembangan pola pikir praktis, logis, kritis dan jujur, dengan berorientasi pada penalaran.
Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar terutama yang sedang berjalan, tidak lepas dari pemilihan strategi belajar-mengajar. Dalam pelaksanaannya guru menempati posisi yang sangat sentral, karena merekalah yang diberi wewenang dan tanggung jawab langsung dalam pendidikan dan pengajaran, untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya guru perlu memiliki keterampilan dalam menguasai materi yang akan diajarkan mengelola strategi belajar-mengajar, menerapkan metode/teknik mengajar yang tepat, memilih media pengajaran dan mengevaluasi hasil belajar.   
Meski demikian, walaupun guru telah berusaha seoptimal mungkin dengan kompetensi yang ada agar siswa memperoleh hasil yang baik tetapi masih banyak siswa yang hasil belajarnya kurang memuaskan. Hal ini kita sadari bahwa keberhasilan belajar siswa itu tidak hanya ditentukan oleh guru.
Menurut Ruseffendi (1998: 19) ada sepuluh faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa belajar yaitu :
a.          Faktor dalam, yang terdiri atas:
1)      Kecerdasan anak
2)      Kesiapan anak
3)     Bakat anak
4)      Kemauan anak
5)      Minat anak
b.          Faktor luar, yang terdiri atas
1)     Model penyajian materi
2)      Pribadi dan cara guru mengajar
3)       Suasana belajar
4)      Kopetensi guru
5)         Kondisi masyarakat luas
Perpaduan faktor-faktor itu mengandunng arti, bahwa kegiatan belajar mengajar siswa akan lebih lancar dan mencapai hasil yang optimal apabila faktor-faktor itu mendukung terjadi proses belajar mengajar efektif. Salah satu upaya guru untuk menunjang kelancaran pelaksanaan KBM dan mencapai tujuan belajar, guru harus dapat memilih dan menggunakan metode mengajar.
Berdasarkan pendapat Samsyu (1992: 72) faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar, yaitu :
a.       Kemampuan/kekhasan guru itu sendiri
b.      Siswa dan karakteristiknya
c.       Situasi belajar yang diharapkan terwujud
d.      Materi yang akan diajarkan
e.       Fasilitas kelembagaan yang menunjang
Hal tersebut akan membantu seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang sesuai, karena pada kenyataanya masih banyak guru mempertanyakan metode apa yang harus dipakai. Kondisi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang disajikan guru secara umum masih belum tepat sasaran bahkan cenderung menerapkan seadanya sesuai dengan konteks buku yang disodorkan tanpa terlebih dahulu menganalisis rambu-rambu kurikulum sebagai induk dari kelengkapan pembelajaran.
Akibat penerapan pembelajaran yang seadanya itulah, maka proses pembelajaran tidak efektif, yang akan menimbulkan verbalisme dalam diri peserta didik serta rendahnya hasil belajar siswa. Kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam dunia pendidikan Indonesia terkesan sulit, mahal dan serius sehingga  masih banyak siswa yang berpendapat bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah mata pelajaran yang sangat sulit dipelajari sehingga sebagian besar siswa kurang menyenangi pelajaran Ilmu Pengetahua Alam (IPA), oleh karena itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menjadi kegiatan yang membosankan dan menakutkan hal ini terlihat dari hasil perolehan nilai para siswa. Selain itu alat-alat pembelajaran Ilmu Pengetahua Alam (IPA) yang seharusnya ada, kurang telengkapi dikarenakan kurangnya dana perlengkapan sekolah dan kurangnya perawatan sehingga sebagian barang hilang atau rusak, selain itu fasilitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti laboratorium dan alat fraktikum di SD sangat terbatas yang mengakibatkan minat belajar mereka rendah, sehingga hasil belajar yang diinginkan tidak tercapai.
Oleh karena itu, perlu disiasati dengan pengembangan kretivitas guru sehingga dapat memanfaatkan lingkungan sekitar serta bahan-bahan yang ada untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar seluruh kendala dalan proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat teratasi dalam situasi dan kondisi apapun. Selain itu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa adalah pembenahan metode dan tekhnik pembelajaran, mengingat tingkat alami secara berfikir yang dominan dapat meniadakan kesulitan para siswa, disarankan guru menggunakan dan memanfaatkan benda-benda manipulatif dan keadaan yang realistik.
Dengan benda-benda manipulatif tersebut siswa diharapkan memanipulasi benda-benda itu untuk memahami konsep dan makna sehingga mereka akan lebih mendalami dan menghayati kaitan manfaat yang nyata. Sehubungan dengan masalah tersebut maka penggunaan metode yang sesuai dengan yang diharapkan adalah metode demonstrasi.
Dengan metode demonstrasi diupayakan kesulitan siswa dalam memahami konsep yang dipelajari dapat teratasi. Karena belajar dengan menggunakan metode demonstrasi siswa dapat berkesempatan untuk melihat secara langsung. Misalnya siswa dapat menyebutkan dan melihat sendiri benda-benda yang termasuk feromagnetik, paramgnetik, dan diamagnetik dalam jenis-jenis benda yang dapat ditarik oleh magnet. Selain itu dengan menggunakan metode demonstrasi siswa akan terhindar dari verbalisme kekacauan dalam memakai konsep, dan sikap berangan-angan atau presepsi yang tidak tepat.
Untuk itu, pemilihan metode yang tepat dalam pembelajaran  Ilmu Pengetahuan Aalm (IPA) merupakan suatu keharusan bagi guru, agar anak lebih mencintai mata pelajaran tersebut sebagai pelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan. Penggunaan metode dalam proses pembelajaran akan membantu kelancaran efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran. Alat/media mempertinggi proses pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar yang ingin dicapainnya 
Dalam pelaksanaan pembelajaran  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD Negeri Sempur Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta dirasakan belum optimal. Ini diduga kuat bahwa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya pokok bahasan bahasan gaya magnet guru belum menggunakan metode  secara tepat dalam menghantarkan peserta didik dalam memperoleh hasil yang optimal. Oleh karena itu, perlu diadakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas di kelas V (lima), sebagai tindakan nyata dengan tujuan agar kesulitan belajar siswa dapat teratasi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mempelajari konsep-konsep gaya magnet dapat lebih baik.
Berangkat dari pemikiran hasil observasi pendahuluan di SD Negeri Sempur, kajian ini mengungkap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  dengan judul: “Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Peningkatkan Hasil Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar”. 

BAB II
HAKIKAT BELAJAR DAN MENGAJAR, HAKIKAT PEMBELAJARAN IPA DI SD, DAN  METODE DEMONSTRASI

A. Hakitan belajar dan mengajar
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu, yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan atas kecenderungan, tanggapan, bawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat.
Pendapat lain diungkapkan oleh Piaget yang dikutip Darmodjo (2008:14), piaget mengemukakan bahwa, “tidak ada belajar tanpa perbuatan.” Hal ini disebabkan perkembangan intelektual anak yang perkembangannya dipengaruhi langsung oleh keterlibatannya secara fisik dan mental dengan lingkungannya.
Hal ini sesuai dengan beberapa perinsip umum tentang belajar yang bertujuan agar siswa  dapat belajar secara optimal dan tujuan pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik.  
2. Prinsip Umum Tentang Belajar
a.       Proses belajar adalah kompleks namun terorganisasi
Artinya dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak hanya diberikan satu mata pelajaran saja akan tetapi beberapa mata pelajaran diberikan.
b.   Motivasi  penting dalam belajar
Motivasi adalah salah satu faktor yang mendukung keberhasilan siswa, dalam memperoleh prestasi belajar.
c.  Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks
Kegiatan pembelajaran yang terjadi dilingkungan sekolah dimulai dari    
yang sederhana kepada yang lebih kompleks secara bertahap
d.      Belajar  membutuhkan bimbingan
Dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa membutuhkan bimbingan, baik secara langsung oleh guru maupun secara tidak langsung melalui bantuan pengalaman pengganti
Belajar dan mengajar adalah dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, belajar menunjukan pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek atau peserta didik yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar adalah menunjukan pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar
3. Pengertian mengajar
Engkoswara (1984:1) mengemukakan bahwa:
(1). Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan atau ilmu pengetahuan dari seseorang guru kepada murid-muridnya, (2) Mengajar ialah menanamkan sikap dan nilai–nilai, pengetahuan  dan keterampilan dasar diri seseorang yang telah mengetahui dan menguasainya kepada seseorang, (3). Mengajar adalah membimbing seseorang atau kelompok orang supaya belajar berhasil

 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, pada perinsipnya mengajar adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau usaha dalam proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta rancangan untuk mempermudah belajar
Dalam proses kegiatan belajar mengajar, siswa membutuhkan kesempatan untuk berkomunikasi, baik dengan guru, teman, maupun dengan lingkungannya  oleh karena itu seyogianya  guru sebagai penyelenggara pembelajaran atau kegitan belajar mengajar dapat memikirkan dan mengupayakan terjadinya interaksi siswa dengan komponen-komponen lain yang terlibat dalam  proses pembelajaran seperti tujuan, materi, metode alat/media pembelajaran, siswa dan guru, maupun dengan lingkungan sekitar  secara optimal.
Selain itu guru juga berkewajiban umtuk memikirkan bagaimana cara atau teknik penyajian materi pelajaran supaya dapat diserap dan diterima siswa secara optimal pula. Salah satu cara atau teknik penyajian materi pelajaran supaya dapat diserap dan terima secara optimal yaitu dengan cara pemilihan metode yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi serta materi yang disampaikan dalam  kegiatan belajar mengajar 

B. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD
 Pelajaran  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu dasar yang sudah berkembang pesat, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mendasari untuk mencari tau tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep, prinsip-prinsip, dan memiliki sifat ilmiah.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, oleh karena itu tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dapat berhasil dengan optimal apabila nilai profesionalisme guru dalam pembelajaran dianggap cukup memadai. Didalam frakteknya pembelajaran di sekolah dasar setiap guru seyogianya menguasai berbagai bahan ajar, mengetahui secara utuh kurikulum mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah dasar dan menggunakan metode pembelajaran yang dapat  meningkatkan hasil belajar siswa, oleh karena itu seyogianya seorang guru dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan lingkungan terutama yang ada di kelas yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar.
Mengajar adalah suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sangat tergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas V beralokasi waktu disesuaikan dengan keleluasaan bahan/materi karena alokasi waktu yang disediakan adalah sekitar 5 jam per minggu.
Adapun materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas V meliputi gaya magnet, gaya gravitasi, gaya gesekan dan pesawat sederhana. Pada penelitian ini materi yang akan disampaikan pada pelaksanaan penelitian yaitu dengan pokok bahasan gaya magnet dengan menggunakan metode demonstrasi 
1.      Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Kata “IPA” merupakan singkatan kata “Ilmu Pengetahuan Alam” kata-kata “Ilmu Pengetahuan Alam” merupakan terjemaahan dari kata-kata Bahasa Inggris “Natural Science” secara singkat sering disebut “Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science itu secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.
Sri, (2007: 5) mengungkapkan bahwa, “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, konsep, yang terorganisasi tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain, penyelidikan penyusunan, pengujian, dan gagasan-gagasan”.
Nash (1993) yang dikutip darmodjo  (1992:3) dalam bukunya The Nature Science, menterjemaahkan bahwa, “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam.” Nash juga menjelaskan bahwa, “cara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengamati dunia ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara suatu fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu presfektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), merupakan disiplin ilmu yang berisi pengetahuan mengenai alam yang disusun secara analisis, logis, dan sistematis, yang dapat membentuk konsep-konsep maupun fakta-fakta tentang alam dan gejala-gejala alam bagi kehidupan manusia.
2.        Tujuan   Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  merupakan mata pelajaran yang mempunyai ruang ligkup yang sangat luas dalam cakupan materinya. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu yang terdiri dari Physical science (ilmu fisik) dan life science (ilmu biologi). Termasuk Phycical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, meneralogi, meteorology, dan fisiska, sedangkan life sciences meliputi biologi (anatomi, fisiologi, zeologi, citologi, mikribiologi), pure science, yakni pengetahuan yang diperoleh dari berpkir dan kebenaran-kebenaran sesungguhnya, seperti matematika, dan exact science, yakni pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pengukuran seperti kimia. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) membahas tentang gejala-gejala- alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia
Ada beberapa alasan yang menyebabkan suatu mata pelajaran itu termasuk kedalam kurikulum sekolah dasar, diantaranya  karena Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kritis  supaya anak dapat menguasai konsep dan manfaat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, selain itu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mempunyai potensi yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan
Alasan lain mengapa siswa sekolah dasar perlu mendapat pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), diperkuat oleh pakar-pakar pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), UNESCO (1983) yang dikutip oleh Darmodjo,  mengungkapkan bahwa :
a.      Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), menolong anak didik berpikir logis terhadap kejadian sehari-hari dan memecahkan masalah-masalah sederhana yang di hadapinya. Kemampuan berpikir semacam ini akan selalu berguna sepanjang hidupnya apapun pekerjaan mereka nanti
b.        Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), aplikasinya dalam tekhnologi, dapat menolong dan meningkatkan kualitas hidup manusia
c.         Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dapat membantu secara positif pada anak-anak untuk dapat memahami mata pelajaran lain terutama bahasa dan matematika
d.         Ilmu Pengetahuan alam (IPA) dibanyak Negara, sekolah dasar merupakan pendidikan yang terminati untuk anak-anak, dan ini berati hanya selama di sekolah dasar itulah mereka dapat kesempatan mengenal lingkungannya secara logis dan sistematis.
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), tidak hanya terbatas di perguruan tinggi, melainkan diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar. Ilmu Pengethaun Alam (IPA) di sekolah dasar adalah disiplin ilmu yang memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan pendidikan, karena dengan mempelajari konsep pelajaran Ilmu Pengetahuan alam dari sejak dini akan membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari.


3.        Hasil Belajar Ilmu Pengetahua Alam (IPA) DI Sekolah Dasar
Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dikelompokan berdasarkan  hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) itu sendiri yaitu sebagai produk dalam proses. Hal ini didasarkan pada pendapat Hungerford (1990:16) yang menyatakan bahwa, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terbagi atas dua bagian yaitu :
a.         The infestigasion (proses) seperti mengamati, mengklarifikasi,  mengukur, meramalkan, dan menyimpulkan. Iskanadar (1997: 4-13) mengemukakan bahwa, “Memahami Ilmu  alam (IPA) lebih dari hanya mengetahui fakta-fakta dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), memahami Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berarti juga memahami proses Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yaitu memahami bagaimana mengumpulkan data-data dan memahami bagaimana menghubungkan fakta-fakta untuk menginterprestasikannya.”
b.         The knowledge (produk) seperti fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Darmodjo (1992:5) yaitu,  “Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai produk dari upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam. Produk Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ini berupa perinsip-perinsip, teori-teori, hukum-hukum, konsep-konsep maupun fakta-fakta yang seluruhnya itu ditunjukan untuk menjelaskan tentang  berbagai gejala alam.”
               


B. Metode Demonstrasi
1.    Pengertian Metoda Demonstrasi
Winarno (1980: 87) mengemukakan bahwa, “metode demonstrasi adalah adanya seseoramg guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperhatikan suatu proses kepada seluruh kelas.”
Moedjiono dan mohamad (1992: 72) mengemukakan bahwa, “demonstrasi adalah Suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan sebuah tindakan atau prosedur yang digunakan.” Selanjutnya Canei, (1986: 38) mengungkapkan bahwa, “metode demonstrasi ditandai dengan penjelasan, ilustrasi dan pernyataan lisan (oral), atau peragaan (visual) secara tepat.” Dari batasan ini nampak bahwa metode ini ditandai adanya kesengajaan untuk mempertunjukan tindakan atau penggunaan prosedur yang ditandai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan maupun visual.
Syaiful  dan Aswan (2006 : 90) memberikan definisi tentang metode demonstrasi yaitu, “Cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan, yang disertai dengan penjelasan lisan.”
Metode demonstrasi merupakan metode yang paling sederhana dibandingkan dengan metode-metode mengajar lainnya. Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh siswa secara nyata atau tiruan. Metode ini adalah yang paling pertama digunakan oleh manusia yaitu tatkala manusia purba menambah kayu untuk memperbesar nyala api unggun, sementara anak-anak mereka memperhatikan dan menirunya.  Metode demonstrasi ini sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupum hal-hal yang bersifat rutin.
Dengan metode demonstrasi siswa berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah dan melalui prosdur yang benar dan dapat pula dimengerti materi yang diajarkan.
2.      Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, untuk ikut mempraktikan atau memperagakan materi yang sedang dibahas. Dengan penerapan metode  demonstrasi diharapkan siswa lebih memahami konsep pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan melekat dalam daya pikir dan daya nalar mereka
Hal ini sesuai dengan pendapat rusffendi (1993:304 ) yang mengungkapkan bahwa, “orang dapat menerima materi hanya 20 % dari apa yang yang didengar, 50 % dari apa yang dilihat, dan 75 % dari apa yang dilakukan atau perbutannya.” Dari pernyataan tersebut belajar dari berbuat dan melakukan akan lebih berhasil dibandingkan dengan hanya melihat atau mendengarkan saja, hal ini yang menjadi sebab dan alasan penerapan metode demonstrasi dipergunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Dasar. alasan lain penerapan metode demonstrasi diterapkan di sekolah dasar adalah sebagai berikut:
a.       Tingkat perkembangan berfikir anak berbeda
Karena itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melalui penerapan metode demonstrasi dapat memperkecil kemungkinan kesalahan bila dibandingkan kalau siswa hanya membaca atau mendengar penjelasan saja. Karena dengan penerapan metode demonstrasi dapat memberikan gambaran konkret yang memperjelas perolehan belajar siswa dari hasil penganatannya.
b.       Materi yang dipelajari tidak semua sama
      pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) tidak lepas dari kegiatan fraktikum, shingga siswa seyogyanya untuk mempu mempraktikan atau memperagakan materi yang dipelajari untuk lebih memperjelas, berbeda dengan materi pelajaran lainnya, yang tidak tergantung dalam kegiatan parktikum. Oleh kerena itu penerapan metode demonstrasi sangat di butuhkan untuk menunjang keberhasilan belajar siswa
c.         Tife belajar individu yang berbeda-beda
1)     Tife visual: orang yang bertive ini lebih mudah belajar  dengan melihat dan menyaksikan, baik secara langsung maupun melalui alat, dalam hal ini penerapan metode demonstrasi sebaiknya dapat digunakan
2)    Tife  Auditif: orang yang bertfe ini lebih mudah belajar dengan mendengarkan, dalam hal ini siswa yang bertife auditif tidak perlu terlalu banyak menggunakan metode demonstrasi, akan tetapi siswa akan lebih memahami lagi dan lebih melekat kedalam daya pikir anak ketika menggunakan penerapan metode demonstrasi
3)        Tife motorik : orang yang bertvie ini lebih mudah belajar dengan melakukan langsung. Dalam hal ini penerapan metode demonstrasi, latihan atau fraktikum sebaiknya banyak digunakan
4)     Tife campuran : tife ini belajar memerlukan kombinasi atau campuran dan tife-tife belajar tersebut di atas
3.      Kelebihan Penerapan Metode Demonstrasi
Dengan mempertanyakan atau memperagakan suatu tindakan proses atau prosedur, maka penerapan metode demonstrasi memiliki kelebihan sebagai berikut :
Dengan penerapan metode demonstrasi siswa akan terhindar dari kesalah pahaman konsep dari hasil membaca atau mendengarkan saja
a.       Melibatkan siswa dalam kegiatan demonstrasi, sehingga memberikan kemungkinan yang besar bagi  para siswa memperoleh pengalaman-pengalaman langsung
b.      Memudahkan pemusatan perhatian siswa kepada hal-hal yang dianggap penting, sehingga para siswa akan benar-benar memberikan perhatian khusus kepada hal tersebut. Dengan kata lain, perhatian siswa lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak tertuju kepada yang lain
c.       Memungkinkan  para siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum mereka ketahui selama penerapan  metode demonstrasi berjalan.
4.       Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SD
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui peningkatan metode demonstrasi membantu siswa untuk aktif dan kreatif. Oleh karena itu penerapan metode demonstrasi lebih sesuai untuk mengajarakan keterampilan tangan dimana gerakan-gerakan dalam memegang sesuatu benda akan dipelajari ataupun untuk mengajarkan hal-hal yang bersifat rutun kepada siswa sekolah dasar, dengan kata lain metode demonstrasi bertujuan unuk mengajarkan keterampilan-fisik yang sesuai dengan perkembangan berfikir anak siswa sekolah dasar
Canei (1989 : 38) mengemukakan bahwa metode demonstras dapat digunakan untuk :
a.         Mengajar siswa tentang bagaimana melakukan sebuah tindakan atau menggunakan suatau prosedur atau produk baru
b.        Meningkatkan kepercayaan bahwa suatu prosedur memungkinkan bagi siswa melakukannya
c.           Meningkatkan perhatian dalam belajar  dan penggunaan prosedur
Berangkat dari pemikiran di atas dapat didefinisikan tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) melalui  penerapan metode demonstrasi bagi siswa sekolah dasar adalah sebagai berikut :
1)          Untuk membangkitkan kreativitas anak, seorang guru perlu memberikan kebebasan dan pengawasan dengan penerapan metode demonstrasi  dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)  guru dapat  mengajar siswa sekolah dasar tentang suatu tindakan, proses atau prosdur keterampilan-keterampilan fisik atau motorik
2)         Mengembangkan kemampuan pengamatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama-sama
3)         Mengkonkretkan informasi yang disajikan kepada para siswa
5. Langkah-langkah penerapan metode demonstrasi
Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memakai metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
a.    Persiapan penerapan metode demonstrasi, meliputi :
1)     Mengkaji kesesuaian metode terhadap tujuan yang akan dicapai
2)       Menganalisis kebutuhan peralatan untuk demonstrasi        
3)       Mencoba peralatan dan analisis kebutuhan waktu
4)      Merancang garis-garis besar demonstrasi
b.   Pelaksanaan penerapan  metode demonstrasi, meliputi :
1)      Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk demonstrasi
2)      Memberikan pengantar demonstrasi untuk mempersiapkan para siswa mengikuti demostrasi, berisikan penjelasan tentang prosedur dan intruksi keamanan demonstrasi
3)      Memeragakan tindakan, proses, atau prosedur yang disertai penjelasan, Ilustrasi, dan pernyataan
c.      Tindak lanjut penerapan  metode demonstrasi meliputi :
1)      Diskusi tentang tindakan, proses, atau prosedur yang baru saja didemonstrasikan
2)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba melakukan segala      hal yang telah didemonstrasikan
Dalam proses pembelajaran dengan penggunaan metode demonstrasi, siswa-siwa perlu mendapat waktu yang cukup lama untuk memperhatikan suatu yang didemonstrasikan itu. Dalam demonstrasi, terutama dalam rangka mengebangkan sikap, guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan berpikir siswa. Dalam hal ini ada dua macam demonstrasi, yaitu :
a). Demonstrasi formal
Pertunjukan  yang di lakukan secara disengaja dan direncanakan terlebih dahulu dengan menggunakan alat peraga yang telah disediakan dengan maksud untuk memberitau suatu cara kepada orang banyak
b). Demonstrasi informal 
Pertunjukan yang dilakukan secara tidak disengaja akan tetapi ada yang memperhatikan dan meniru suatu cara  tersebut sehingga secara tidak langsung dapat dipahami dan dimengerti.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan metode demonstrasi dalam belajar dan mengajar ialah metode yang digunakan oleh seorang guru atau orang luar yang sengaja didatangkan atau murid sekalipun untuk mempertunjukan gerakan-gerakan suatu proses dengan prosedur yang benar disertai keterangan-kterangan kepada seluruh dunia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar